Well, 4 years pass already. :)
Banyak yang udah berubah dalam 4 tahun terakhir. Keluarga, Pekerjaan, Teman baru, Percintaan, sampe ukuran lingkar perut juga ikut berubah. Haha. Sebenarnya udah ga terlalu tertarik lagi buat nulis, tapi berhubung ada request dari seseorang yang sebentar lagi InshaAllah jadi wanita yang akan menjadi pendamping hidup saya. Jadi saya putuskan untuk menulis di blog saya yang mungkin sudah banyak sarang laba-labanya, sangking udah lama ga di tengok apalagi diisi. :D
Yuup, Namanya Eka Fitrianti, Biasa dipanggil eka pulut. Semua berawal di kantor TTC Telkomsel Soekarno-Hatta pada akhir January 2014. Ketika dia ninggalin saya disana, jadi saya harus menunggu driver sampe jam 9 malam :(.Tapi siapa kira itu menjadi awal dari cerita kami.
Sebenarnya itu bukan pertama kali saya notice keberadaannya di kantor, sebelumnya kami sempat satu mobil ketika menuju hotel novotel dari kantor untuk acara breakfasting with Tekomsel area, hal yang tidak terlupakan ketika dia memarahi petugas karcis parkir :D "Lama kalii..!!" dengan nada keras dan melayu kebanggaannya. Selain itu ketika saya dilobby kantor sedang menunggu driver, Eka datang telat saat itu. Dia turun dari angkot dan berjalan dengan jilbab yang fasionable seperti bendera amerika, kacamata yg lebar, celana panjang hitam, dan sepatu wakai abu". Sangat trendi pokonya :D. Tapi sayangnya dia tidak notice keberadaan saya saat itu :(, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Lelaki yang akan menghabiskan sisa waktunya di dunia bersamanya. Hmmm..
Kita lanjut setelah kejadian di kntr TTC yah. Beberapa hari kemudian kita ditakdirkan bertemu, tapi dari sikapnya seperti tidak ada perasaan bersalah setelah meninggalkan saya tanpa sebab di TTC Telkomsel saat itu. Justru kita malah ngobrol enak. Dari obrolan itulah saya yakin pasti ada misskomunikasi kemarin dan ternyata benar. Setelah kejadian itu dia tetap minta maaf, walaupun kita sudah tau kalau hanya masalah misskomunikasi saja. Dan dari situlah mulai terbuka komunikasi yang nyaman terbentuk.
- Ujung Genteng, 7 - 9 Feb 2014
Sebalik dari Ujung Genteng komunikasi kamipun lebih intens via BBM. Baik di kantor, di jalan, apalagi kalo sudah di kosan. Tidak ada satu malam yang tidak dilewatkan tanpa chat. Walaupun saat itu diantara kami belum ada perassan lebih, tapi kami sudah mendapatkan perasaan yang nyaman dalam berkomunikasi. Eka pernah bilang kalau dia suka cara saya mendengarkan dan menjelaskan sesuatu, mungkin karena saya pendiam. Jadi lebih sering menjadi pendegar dibanding speaker.
- Pangalengan, 22 Feb 2014
Petualangan kami selanjutnya ialah Rafting + Paintball di Pangalengan Bandung Selatan. Berawal dari ide Belle teman kami, berangkatlah kita 3 rombongan mobil Avansa ke Pangalengan. Sebelum ke pangalengan kita (Saya, Alex, Bernard, & Belle) menjemput Eka dulu ke kosannya yang di jalan Ramdhan. Oiyaa, malamnya saya dan eka sudah sibuk mencari lokasi kosannya. Maklum, saat itu eka belum tau kecanggihan smartphone android kalo bisa share lokasi, Hihihi..
Akhirnya dengan mengandalkan capture screen googlemap, kami berhasil menemukannya. Eka sudah menunggu di perempatan gang, dan perjalanan pun lanjut menuju Pangalengan. Lokasi pertama ialah Paintball battlefield, setelah mendengarkan intruksi dan berseragam lengkap. Pertempuranpun dimulai dan berakhir dengan kekalahan di kubu kami (Eka, Saya, Alex, Bernard, & Belle). Dari Paintball berlanjut ke Rafting, setelah mendapat beriefing dan perlengkapan petualangan kami mengarungi sungai Palayangan. Selama mengarungi sungai dan spot jeram kami lebih banyak berteriak/ketewa menikmati view sepanjang sungai. Menurut saya rute rafting di Pangalengan ini yang paling baik dari sisi view. Sepanjang jalur diapit oleh hutan pinus dan bukit, dan itu jarang ditemui di lokasi rafting lainnya. Setelah mengarungi selama 2 jam, tibalah kami di pos akhir yang menandakan akhir dari rute kami. Sampai disana kamu bersih" untuk bilas dan ganti pakaian, dan bersiap untuk pulang.
Sampai bandung sekitar pukul 17:00 kami (Saya, Eka, Alex, Bernard, & Belle) memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kosan masing. Tapi memanjakan diri di Amaia untuk refleksi. Huhuhu, itu pengalaman pertama saya lho. Setelah satu jam kamipun lanjut ke Rumah Kopi di Dago atas untuk ngobrol". Cukup lama waktu kami habiskan disana, dari kami berlima suara Eka mendominasi disana. Obrolannya beraneka ragam, dari masalah kerjaan, tempat makan, sampai hal" yang vulgar juga keluar. Dan saya hanya mendengarkan dan meperhatikan wajahnya ketika dia sedang berbicara, Eka terlihat sangat bahagia hari itu. Selama diperjalanan dia selalu bilang "Bukan kemana kita pergi, tapi dengan siapa kita pergi". Dia seperti mendapatkan atmosfer/teman/kebahagiaan yang baru. Tetapi dibalik senyum dan tawanya, saya bisa merasakan jika sebenarnya dia sedang dalam banyak beban. Dan lagi-lagi apa yang saya rasakan benar.
Sepulang dari Pangalengan Eka berjanji akan memasakan kami makan siang. Dan lagi-lagi saya dibuatnya kagum sama dia. Eka tetap menjaga janjinya untuk masak buat kami. Dengan semua aktifitas yang sudah kami lewatkan di hari sebelumnya. Itu pasti membuatnya lelah, saya aja sudah ga tertarik buat keluar kosan, karena selimut dikosan lebih menarik. Tapi Eka beda, dia tetap pergi ke pasar pagi" & masak di kosannya untuk kami, Amazing. Jarang saya temukan wanita yang masih menjaga janjinya. Apalagi di kota besar seperti Bandung.
Saya dan Alex menjemputnya ke kosan, sampai di kosan ternyata Sapi Lada Hitamnya belum jadi, sehingga saya memutuskan untuk membantu memasak seperti yang ada pada gambar di atas. Setelah jadi kami langsung meluncur ke kosan cipaganti untuk menyantap masakannya. Yummy..
Selesai makan kita lanjut untuk main Bilyard di GOR Siliwangi. Kurang lebih 2 jam kita main, sepanjang permainan saya dan Eka banyak ngobrol, sempat heran juga sih dengan bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Gaya bicaranya juga berbeda saat itu, lebih tenang dan lembut. Ketika sampai dikosan masing-masing obrolan kami pun berlanjut via BBM. Sampai akhirnya keluar kalimat dari Eka, "Aku suka cara kamu mendengarkan dengan tangan kosong". Sempat ga paham juga maksudnya, sampai akhirnya saya tau kalau Eka suka cara saya mendengarkannya ketika dia sedag berbicara. Saya meletakan Smartphone saya dan memalingkan wajah saya menghadap dia. Eka bilang jaman sekarang sudah sulit menemukan lawan bicara yang mau mendengarkan dengan tangan kosong, mostly mereka tidak dapat lepas dari handphonenya masing-masing. Well, noted.
Akhirnya dengan mengandalkan capture screen googlemap, kami berhasil menemukannya. Eka sudah menunggu di perempatan gang, dan perjalanan pun lanjut menuju Pangalengan. Lokasi pertama ialah Paintball battlefield, setelah mendengarkan intruksi dan berseragam lengkap. Pertempuranpun dimulai dan berakhir dengan kekalahan di kubu kami (Eka, Saya, Alex, Bernard, & Belle). Dari Paintball berlanjut ke Rafting, setelah mendapat beriefing dan perlengkapan petualangan kami mengarungi sungai Palayangan. Selama mengarungi sungai dan spot jeram kami lebih banyak berteriak/ketewa menikmati view sepanjang sungai. Menurut saya rute rafting di Pangalengan ini yang paling baik dari sisi view. Sepanjang jalur diapit oleh hutan pinus dan bukit, dan itu jarang ditemui di lokasi rafting lainnya. Setelah mengarungi selama 2 jam, tibalah kami di pos akhir yang menandakan akhir dari rute kami. Sampai disana kamu bersih" untuk bilas dan ganti pakaian, dan bersiap untuk pulang.
Sampai bandung sekitar pukul 17:00 kami (Saya, Eka, Alex, Bernard, & Belle) memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kosan masing. Tapi memanjakan diri di Amaia untuk refleksi. Huhuhu, itu pengalaman pertama saya lho. Setelah satu jam kamipun lanjut ke Rumah Kopi di Dago atas untuk ngobrol". Cukup lama waktu kami habiskan disana, dari kami berlima suara Eka mendominasi disana. Obrolannya beraneka ragam, dari masalah kerjaan, tempat makan, sampai hal" yang vulgar juga keluar. Dan saya hanya mendengarkan dan meperhatikan wajahnya ketika dia sedang berbicara, Eka terlihat sangat bahagia hari itu. Selama diperjalanan dia selalu bilang "Bukan kemana kita pergi, tapi dengan siapa kita pergi". Dia seperti mendapatkan atmosfer/teman/kebahagiaan yang baru. Tetapi dibalik senyum dan tawanya, saya bisa merasakan jika sebenarnya dia sedang dalam banyak beban. Dan lagi-lagi apa yang saya rasakan benar.
- Bandung, 23 Feb 2014
Saya dan Alex menjemputnya ke kosan, sampai di kosan ternyata Sapi Lada Hitamnya belum jadi, sehingga saya memutuskan untuk membantu memasak seperti yang ada pada gambar di atas. Setelah jadi kami langsung meluncur ke kosan cipaganti untuk menyantap masakannya. Yummy..
Selesai makan kita lanjut untuk main Bilyard di GOR Siliwangi. Kurang lebih 2 jam kita main, sepanjang permainan saya dan Eka banyak ngobrol, sempat heran juga sih dengan bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Gaya bicaranya juga berbeda saat itu, lebih tenang dan lembut. Ketika sampai dikosan masing-masing obrolan kami pun berlanjut via BBM. Sampai akhirnya keluar kalimat dari Eka, "Aku suka cara kamu mendengarkan dengan tangan kosong". Sempat ga paham juga maksudnya, sampai akhirnya saya tau kalau Eka suka cara saya mendengarkannya ketika dia sedag berbicara. Saya meletakan Smartphone saya dan memalingkan wajah saya menghadap dia. Eka bilang jaman sekarang sudah sulit menemukan lawan bicara yang mau mendengarkan dengan tangan kosong, mostly mereka tidak dapat lepas dari handphonenya masing-masing. Well, noted.
- Bandung, 2 March 2014
Hari demi haripun kami lewati, dan komunikasi kami yang tadinya hanya lewat chat berkembang menjadi via telpon. Setiap malam sebelum tidur kami selalu habiskan sampai ngantuk, malah tidak jarang kami sampai lupa waktu. Pernah satu malam, tanpa kami sadari waktu sudah menunjukan pukul 03:00 pagi. Hahaha. Kalo sekarang ditanya apa aja yang jadi bahan obrolan saat itu saya pun binggung. Kita seakan-akan tidak kehabisan bahan untuk ngobrol, banyak sekali dari hal-hal yang berhubungan dengan agama, pekerjaan, pengalaman Eka dengan mantannya, dll. Dari obrolan-obrolan itu saya mulai tertarik untuk mengenalnya lebih dekat. Semakin lama hubungan kami semakin dekat.
Sampai kita bertemu dengan suatu malam, tepatnya tanggal 1 Maret 2014 pukul 11:00 malam. Saat itu saya sedan berada di Jakarta, seperti biasa kita ngobrol lewat telpon. Awalnya saya tidak ada niat untuk mengajaknya menikah malam itu. Tapi ga tau kenapa, obrolan kita saat itu membuat saya yakin. Kalau saya ingin menjalin hubungan yang serius dengannya, orientasi saya bukan untuk hanya pacaran. Tapi untuk menikah, makanya saya bilang ke dia "Nanti, kalo kamu mau pulang ke Dumai. Aku ikut kamu yah". Sontak membuatnya kaget, dan terbangun dari posisi tidurnya. Mungkin dia tidak mengira kalo saya akan mengatakannya malam itu juga. Tapi buat saya, sudah tidak ada alasan lagi buat menunda" niat baik. Makanya saya katakan ke dia malam itu.
Sebelum menutup telpon, kami janjian kalau besok kita ketemuan di Festival Citylink Bandung. Well, perjalanan menuju bandungpun terasa begitu cepat. Sesampainya disana, saya langsung BBM dia, Eka menunggu di Foodcourt dengan temannya dan sayapun bergegas ke foodcourt. Begitu ketemu saya langsung canggung saat itu. Gimana tidak, Eka mengenakan boots, Jeans, dan lipstik merah hati. Sangat tidak sepadan dengan cara berpakaian saya saat itu, saya mengenakan polo shirt, Jaket, Jeans dan sepatu adidas yang baru saya beli di Cihampes. haha. Disana waktu kita habiskan dengan Makan dan Karaoke. Setelah itu saya dan eka menuju BOBER Cafe. Itu pertama kali saya kesana, Suasananya nyaman. sangat cocok buat membunuh waktu malam besama teman atau pacar. Setelah memesan makan, Obrolan kamipun langsung menjurus pada apa yang sudah kita obrolin semalam. Eka sempat bilang, "kamu mending pikir" dulu kalo menikah sama aku. Aku ini suka sakit - sakitan lho". Tapi setelah saya jelaskan "Kriteria calon istri aku cuma 2 : Berhijab dan mempunyai akhlak yang baik, dan aku sudah menemukan itu di kamu". Setelah itu saya tegaskan lagi ke Eka, "Jadi kamu mau serius sama aku?", dan Eka pun menjawab "menurut kamuuu" dan terlihat senyum di bibirnya yang merah itu sambil tertuduk pandangannya. :)
Sejak saat itu arah hubungan kami pun semakin jelas arahnya, saya mengenalkan ortu saya ke Eka. Saya menghungi ayahnya Eka seminggu kemudian. Dan sebulan kemudian saya sudah sampai di Rumah Eka di Dumai. Alhamdulilah, Response keluarganya positif.
Hmmm, Rahasia Allah memang luar biasa. Kami berdua tidak pernah kenal satu sama lain walaupun sudah berkantor di lantai yang sama selama berbulan - bulan. Tapi ketika Allah sudah menentukan waktunya, maka kita tidak akan pernah bisa untuk menghindarinya. Semoga Allah memberikan keberkahan untuk pernikahan kami yang insyaAllah tinggal hitungan bulan lagi. Amin.
6th Floor, MDP Tsel Office,
After Lunch Time, :)
Sampai kita bertemu dengan suatu malam, tepatnya tanggal 1 Maret 2014 pukul 11:00 malam. Saat itu saya sedan berada di Jakarta, seperti biasa kita ngobrol lewat telpon. Awalnya saya tidak ada niat untuk mengajaknya menikah malam itu. Tapi ga tau kenapa, obrolan kita saat itu membuat saya yakin. Kalau saya ingin menjalin hubungan yang serius dengannya, orientasi saya bukan untuk hanya pacaran. Tapi untuk menikah, makanya saya bilang ke dia "Nanti, kalo kamu mau pulang ke Dumai. Aku ikut kamu yah". Sontak membuatnya kaget, dan terbangun dari posisi tidurnya. Mungkin dia tidak mengira kalo saya akan mengatakannya malam itu juga. Tapi buat saya, sudah tidak ada alasan lagi buat menunda" niat baik. Makanya saya katakan ke dia malam itu.
Sebelum menutup telpon, kami janjian kalau besok kita ketemuan di Festival Citylink Bandung. Well, perjalanan menuju bandungpun terasa begitu cepat. Sesampainya disana, saya langsung BBM dia, Eka menunggu di Foodcourt dengan temannya dan sayapun bergegas ke foodcourt. Begitu ketemu saya langsung canggung saat itu. Gimana tidak, Eka mengenakan boots, Jeans, dan lipstik merah hati. Sangat tidak sepadan dengan cara berpakaian saya saat itu, saya mengenakan polo shirt, Jaket, Jeans dan sepatu adidas yang baru saya beli di Cihampes. haha. Disana waktu kita habiskan dengan Makan dan Karaoke. Setelah itu saya dan eka menuju BOBER Cafe. Itu pertama kali saya kesana, Suasananya nyaman. sangat cocok buat membunuh waktu malam besama teman atau pacar. Setelah memesan makan, Obrolan kamipun langsung menjurus pada apa yang sudah kita obrolin semalam. Eka sempat bilang, "kamu mending pikir" dulu kalo menikah sama aku. Aku ini suka sakit - sakitan lho". Tapi setelah saya jelaskan "Kriteria calon istri aku cuma 2 : Berhijab dan mempunyai akhlak yang baik, dan aku sudah menemukan itu di kamu". Setelah itu saya tegaskan lagi ke Eka, "Jadi kamu mau serius sama aku?", dan Eka pun menjawab "menurut kamuuu" dan terlihat senyum di bibirnya yang merah itu sambil tertuduk pandangannya. :)
Sejak saat itu arah hubungan kami pun semakin jelas arahnya, saya mengenalkan ortu saya ke Eka. Saya menghungi ayahnya Eka seminggu kemudian. Dan sebulan kemudian saya sudah sampai di Rumah Eka di Dumai. Alhamdulilah, Response keluarganya positif.
Hmmm, Rahasia Allah memang luar biasa. Kami berdua tidak pernah kenal satu sama lain walaupun sudah berkantor di lantai yang sama selama berbulan - bulan. Tapi ketika Allah sudah menentukan waktunya, maka kita tidak akan pernah bisa untuk menghindarinya. Semoga Allah memberikan keberkahan untuk pernikahan kami yang insyaAllah tinggal hitungan bulan lagi. Amin.
6th Floor, MDP Tsel Office,
After Lunch Time, :)
.jpg)




