Minggu, 22 Agustus 2010

Mesjid Al-Muhtadin::..

Mesjid ini yang membuat saya betah selama berada di Lampung. Mesjidnya tidaklah terlalu besar, dari ukurannya terlihat seperti mushola atau langgar. Letak lokasinya berada di tengah pemukiman padat penduduk di pusat kota Lampung, sepertinya berasal dari tanah wakaf. Dan yang membuat saya betah bukanlah dari bentuk atau ukuran fisik mesjidnya. Tapi yang membuat saya betah ialah para jemaah di mesjid ini. Mereka berbeda dengan para jemaah mesjid yang pernah saya temui sebelumnya. Beberapa bulan yang lalu, ketika saya pertama kali shalat di mesjid ini. Mereka mulai menyapa saya dengan memberikan senyum dan mengajak saya untuk bersalaman. Dan setelah beberapa kali shalat berjamaah disana, bukan hanya senyum yang mereka berikan, tapi mereka menyapa dengan menanyakan saya tinggal dimana, berasal dari mana, dan sedang apa di Lampung. Komunikasi tersebut membuat saya merasa bertambah nyaman berada di mesjid ini. Dan itu tidak hanya di dalam mesjid, tapi jika kita bertemu di jalanpun mereka yang selalu menyapa saya terlebih dahulu. Saya merasa menjadi bagian dari mereka walaupun saya hanyalah pendatang disini.

Beberapa orang jemaah yang saya kenal di mesjid ini. Yang pertama Pak Tono, Beliaulah jemaah mesjid yang pertama kali menyapa saya, beliau keturunan jawa tapi lahir dan besar di Lampung. Penduduk di Lampung memang mayoritas keturunan jawa, sedangkan orang pribuminya jarang saya temui. Pak Tono kebetulan bekerja di Hotel tempat saya menginap. Dari sini lah kita menjadi sangat akrab karena sering bertemu di Hotel dan di Mesjid. Selanjutnya Pak Nasser, beliau kakeknya azam yang saya ceritakan di postingan sebelumnya :). Pak Nasser mempunyai warung kecil di dekat Hotel Andalas Permai tempat saya menginap. Jadi kita sering bertemu ketika saya membeli sesuatu di warungnya. Selanjutnya Pak Joni, beliau orang Bengkulu tapi lahir dan besar di Lampung. Pak Joni pemilik warung makan yang menjadi langganan saya. Biasanya selesai saya makan kita ngobrol" dulu di warungnya, jadi kalo sudah diwarungnya saya bisa menghabiskan banyak waktu disana. Kebetulan Pak Joni juga punya anak perempuan juga. Soo...Hahaha.. Pak Bo'ing, nama aslinya pak Ibrohim cuma bisa di panggil Pak Bo'ing. Beliau biasa yang menjadi imam di Mesjid ini. Saya jarang bertemu beliau di luar mesjid, jadi kurang begitu akrab. Yang terakhir ialah si russel, nama aslinya saya tidak tau. Cuma saya menyebutnya russel karena fisik dan wajahnya sangat mirip dengan karakter Russel di film animasi "Up". Badanya gemuk, kulitnya bersih, matanya sipit, dan usianya seumuran anak SD. Very Russel absolutely :)).. Oya, Pak Salman hampir terlupakan. Pak Salman ini usianya sudah sangat tua, lahir ketika Indonesia masih di jaman penjajahan Belanda tahun 1925. Suatu hari ketika hujan turun deras, kita tidak bisa pulang karena tidak membawa panyung. Jadi kita ngobrol sambil menunggu hujan reda. Pak Salman bercerita tentang pengalaman beliau di jaman penjajahan. Saya merasa kembali ke jaman itu ketika mendengarkan ceritanya. Meskipun umurnya sudah sekitar 85 tahun dan kondisi badannya sudah sangat rapuh tapi beliau masih semangat untuk ke datang ke mesjid. Padahal untuk berjalan saja bukan lah hal yang mudah buat dia. Salut lh buat Pak Salman.

Merekalah orang-orang yang membuat saya merasa nyaman berada di Kota Bandar Lampung ini. Senyum, Sapa, dan perlakuan mereka terhadap saya tidak akan saya lupakan. Mungkin menurut mereka, apa yang mereka lakukan ke saya hanyalah hal yang biasa, tapi menurut saya itu sangatlah luar biasa. Waktu saya di Lampung ini mungkin sudah tinggal beberapa hari lagi. Karena Hari Kamis besok saya sudah harus kembali ke Jakarta. Jika suatu saat nanti saya kembali lagi ke kota ini, entah karena pekerjaan atau apapun itu. Insyaallah saya akan menyempatkan diri untuk datang ke Mesjid Al-Muhtadin ini.

Semoga mereka selalu mendapat keridhaan Allah swt. Amin..
Salam hangat untuk beliau semua dan si ndut Russel :).

Wassalam,

Room 114
Andalas Permai
Bandar Lampung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar